Postingan

Kenangan Didalamnya

IA  menyukai lagu itu, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyukainya hingga bertahun-tahun kemudian. Di telinganya, penyanyi di radio itu seperti berteriak  apuseeee … dan ia menyanyikannya begitu. Ia pikir ada juga lagu Barat yang berjudul Apuse , sama dengan judul sebuah lagu daerah. Baru nanti, setelah semuanya terjadi, ia tahu judul lagu itu  House for Sale .  Itu lagu yang abadi di dalam benaknya. Kapan pun ia menyanyikannya sekarang, ingatannya akan selalu surut ke suatu sore di masa lalu saat ia duduk di balkon depan kamarnya memandangi gumpal-gumpal awan. Semuanya jernih seperti belum lama terjadi. Ia menikmati rokoknya di balkon itu, satu kakinya dinaikkan ke kursi. Istrinya, dengan gerak kalem dan paras sedih, datang mendekat dan duduk di kursi sampingnya. Ia menoleh ke arah perempuan itu, memandangi beberapa saat paras sedihnya. Istrinya tampak lebih cantik ketika sedih. Pad...

Amplop Kosong

IA  masih menatap undangan yang bergerak perlahan mengikuti angin. Kemudian ia menyandarkan diri di tembok dan sesekali melihat undangan yang sempat ia buka beberapa hari yang lalu. Wajahnya kusut dan memelas seperti tak ada lembaran penyambung hidup di kantongnya. Andai ia diterima kerja di pabrik bulan ini, mungkin ia bisa memperoleh pemasukan. Jika tak ada pemasukan, apa layak menghadiri pesta pernikahan? Biasanya, orang menyebut resepsi pernikahan dengan sebutan  bowo . Di acara tersebut ada semacam kotak infak yang dihias sedemikian rupa hingga jauh dari kesan kotak infak itu sendiri. Malahan ada juga bentuknya seperti pot bunga yang besar sekali. Namun, fungsinya sama saja. Untuk mengisi amplop.  Tapi masalahnya, mau diisi apa? Uang pun tak ada. Jika ada paling buat beli pulsa dengan nominal terendah. Apa tidak perlu datang? Ah, bukankah menghadiri undangan itu wajib? “ Assalamu’alaikum .” “ Waalaikumussalam .” Bejo akhirnya datang juga. R...
Maaf lagi gak mood nulis, jadi mungkin minggu depan akan Update lagi, Makasih !

Salah Paham

   Hari-hari Nabilah selalu dilalui dengan baik dan ceria. Namun ia teringat saat dia kelas 8 SMP dulu. Kini Nabilah telah duduk di kelas 9 dan kakaknya, Nadya sudah menjadi mahasiswa baru di fakultas kedokteran. Cerita Nabilah ini sangat indah dan sangat sukar untuk dilupakan. Suatu pagi, hari ini Nabilah akan masuk sebagai anak kelas 8 pertama kalinya. Nabilah sudah bangun pagi-pagi sebelum dibangunkan ibunya. Bangun tidur dia berdoa lalu menyiapkan seragam, sepatu, kaos kaki, dasi dan topinya. Cepat-cepat dia masuk ke kamar mandi untuk mandi pagi. Lalu dia mulai menghabiskan sarapannya. “Ya ampun, Nab. Pelan-pelan aja.” Kata Nadya yang baru bangun tidur. Nadya masuk siang, maka dari itu dia bangun siang. “Bener tuh kata Kakakmu. Nanti tersedak lho.” Tambah bapaknya. “Iya pak. Iya kak.” Setelah selesai makan Nabilah mengambil tasnya dan berkangkat. Tak lupa dia berpamitan pada bapak, ibu, dan kakaknya. Katanya, “Nabilah berangkat ya Pak, Bu, Kak!” Perjalanan ke sekolah...

Bocah-Bocah Berseragam Biru Laut

Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. Lingsut, lelah, dan menggelepar di sana. Mungkin selamanya. Ruang teduh, ruang nyaman. Ruang tunggu dengan warna pastel. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai, ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. Aku mengitari mereka perlahan-lahan, sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Kepala-kepala itu masih penuh derita. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. Tunggulah sejenak, sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat ...

Ajaran Kehidupan Seorang Nenek

Jauh-jauh aku datang, dimulai hari pertama aku sudah mendapat kekecewaan. Ibu tidur di kamar Puspa, tapi tidak boleh menggendong dia,” kata anak sulungku. “Kalau dia terbangun dan menangis?” “Biarkan saja! Anakku tidak kubiasakan digendong.” Seolah-olah dia tidak yakin bahwa aku mengerti kata-katanya, anakku mengulangi, nada suaranya terkesan mengancam, “Betul lho, Bu! Jangan sampai begitu Ibu pulang, aku direpoti anak manja dan terlalu minta diperhatikan!” Barangkali karena kaget, aku terdiam. Bayangkan! Hanya ibuku yang seharusnya berhak berbicara dalam nada seperti itu kepadaku. Aku tersinggung. Semakin umur bertambah, sakit hati semakin sering kualami. Aku direktris suatu rantai usaha swadaya yang boleh dikatakan sukses. Semua karyawan di tempatku hormat kepada, berbicara nyaris kuanggap berlebihan terlalu sopan bagiku. Di saat-saat mengunjungi perusahaan atau kantor lain, orang-orang menerimaku dengan sikap dan pandang ering 1) yang acapkali membuat aku merasa risi...