Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan. Awalnya, orang-orang mengira bahwa rumah kami tengah sesak dilalap api. Tapi kian waktu mereka kian bosan membicarakannya, karena mereka tak pernah melihat api sepercik pun menjilati rumah kami. Yang mereka lihat hanya asap tebal yang bergulung-gulung. Kabut. Pada akhirnya, mereka hanya akan saling berbisik, ”Begitulah rumah pengikut setan, rumah tanpa Tuhan, rumah itu pasti sudah dikutuk.” *** Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu. Sayup-sayup, di ruang depan ayah tengah berbincang dengan beberapa orang. Entah apa yan...
Ia kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama George. Mata Peter akan berbinar setiap menceritakannya. Ia termasuk keturunan langsung spesies kura-kura yang diamati Charles Darwin ketika merumuskan teori evolusinya pada abad ke-19. Berapa kali ia sudah mendengar Peter mengatakan itu? Kau harus melihat sendiri, betapa cakepnya kura-kura itu. Ia botak dan bermata besar. Ia tua dan kesepian memang. Namun, sebentar lagi ia akan punya keturunan. Ada benarnya juga kelakar teman- temannya. ”Kau tahu, Jane, itulah risiko punya pacar zoologist. Kamu harus lebih dulu menjadi primata yang menarik untuk membuatnya tertarik bercinta denganmu.” ”Justru itulah untungnya. Aku tak perlu cemas. Karena Peter lebih tertarik memperhatikan binatang langka ketimbang perempuan bera...
Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta. Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca—membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gan...
Komentar
Posting Komentar